BUNTU BURAKE

KAWASAN WISATA RELIGI BUNTU BURAKE

(Destinasi Wisata PINTAR – Smart Destination)
By Reformer : Eli Bernat M, SE (Dinas Pariwisata Kab. Tana Toraja)

Letak Geografis :

Buntu Burake merupakan wilayah perbukitan batu gamping (kars) pada ketinggian 900 – 1.129,9 mdpl terletak di Keluarahan Buntu Burake, Kecamatan Makale, Kabupaten Tana Toraja Provinsi Sulawesi Selatan. Secara geografis Obyek Wisata Religi Buntu Burake terletak antara 119°51’ – 119°52’ BT dan 03°05’ – 03°06’ LS. Luas kawasan Buntu Burake ± 152,36 ha dengan variasi vegetasi lokal dan satwa liar dari kelas burung dan beberapa mamalia jenis monyet ekor panjang menjadikan kawasan ini sangat potensial untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata untuk reat-reat, kamping, jalur-jalur trekking, dan lain-lain. Kawasan Obyek Wisata Religi Buntu Burake dikelilingi oleh 4 kampung yaitu : Kampung Buisun di sebelah Utara, Kampung Lea di sebalah Timur, Kampung Limbong di sebelah Selatan dan Kampung Burake di sebelah Barat.

Sejarah dan Legenda

Burake adalah sebuah kampung yang terletak di wilayah adat Makale dengan nama Bua’ Burake yang dibentuk oleh to dolo (leluhur) pada jaman dahulu kala bernama Sirrang dari Tongkonan Banua Puan, Marinding yang kawin dengan Ambun di Dangle’ dan menjadi penguasa di Wilayah Adat Makale. Setiap wilayah Bua’, penanian dan kampong adalah gabungan dari beberapa wilayah tondok, saroan, tepo tondok atau nama lain yang merupakan kesatuan wilayah terkecil dalam wilayah adat yang secara turun temurun didiami dan dikelola oleh masyarakat adat sebagai penyangga kehidupan mereka yang diwarisi dari leluhurnya dan memiliki struktur kelembagaan adat seiring sejarah keberadaan masyarakatnya.

Bua’ adalah sebuah wilayah dengan batas-batas yang jelas yang dibentuk oleh rumpun keluarga atau masyarakat yang pernah atau sering mengadakan ritus ma’bua’ yakni ritus tertinggi tingkatannya bagi masyarakat Toraja berupa kesyukuran kepada Tuhan Sang Pencipta alam semesta atas kesuburan dan keberkahan. Dari kata ma’bua’ maka diberilah gelar to sangbua’ artinya suatu kesatuan masyarakat adat yang terdiri dari beberapa tongkonan dan tergabung dalam suatu sistem pemerintahan adat yang berdaulat karena memiliki batas wilayah, ada rakyat dengan cita-cita dan tujuan yang sama, ada pemerintahan yang dilembagakan lewat pranata Tongkonan dan diikat dalam konstitusi berupa hukum adat yang mengatur seluruh aspek kehidupan masyarakat bua’.  Dalam wilayah Bua’ Burake terdapat beberapa tongkonan tua yang menjadi pengayom dan saling bersinergi dalam tatanan adat Buntu Burake.

Buntu Sundallak Tempat Meminta Hujan

Sundallak, konon adalah seorang leluhur yang sakti dan dijuluki to senga’-senga’ suru’ na, to laen-laen tetangan sara’ka’na; to umposuru’ bai tanda, to umpotetangan sara’ka’ bai ballang ke kendekki langngan buntu malangka’, ke dao i tanete longke (Sundallak, orang sakti mandraguna; naik meminta hujan dengan ritual mengurbankan bai ballang). Dia naik di puncak tertinggi Buntu Burake dan mengadakan ritual meminta hujan kepada Puang Matua Sang Pencipta dan sekonyong-konyong turunlah hujan lebat yang diberi istilah ma’ uran pekali ko mai (datang lah hujan lebat. Itulah sebabnya puncak tertinggi diberi nama Buntu Sundallak.

Zonasi Kawasan :

Kawasan Wisata Religi Buntu Burake ini terdiri dari beberapa zona atau area yang memiliki fungsi dan karakteristik lingkungan yang spesifik, antara lain :  

Zona Inti (sanctuary zone) berfungsi untuk perlindungan monumen dan pelataran Patung Yesus Memberkati (kawasan patung Yesus Kristus memberkati), Kawasan Pelataran Patung , Kaca Ardrenalin dan Spot Foto

Zona Penyangga (buffer zone) berupa goa purba yang telah dijadikan  Goa Bunda Maria, area kuliner, area souvenir, parking area, dan publik area pada kawasan kars Burake .

Zona Pengembangan (development zone) yakni Lombok Sumpu, hamparan lembah di sebelah timur, Buntu Sirrang,  Buntu Sundallak, , Buntu Panduang, Buntu Pangngumba’, dan lain-lain.

Zona Permukiman dan Desa Wisata di sekitar kawasan Buntu Burake

ZONA INTI dan PATUNG YESUS KRISTUS MEMBERKATI

Pada tahun 2011, Gubernur Sulawesi Selatan, Bapak Syahrul Yasin Limpo pada pencanangan Lovely December 2011. Saat itu beliau memberi masukan kepada Pemerintah Daerah Tana Toraja dan Toraja Utara untuk membangun simbol kepada kedua daerah tersebut. Kemudian Kabupaten Toraja Utara lebih memilih membangun Salib Raksasa di Buntu Singki sedangkan Kabupaten Tana Toraja terlebih dahulu mengadakan Kombongan untuk menentukan apa yang cocok untuk di kabupaten Tana Toraja. Dalam berbagai pertemuan baik secara resmi ataupun lewat pertemuan yang sifatnya tidak resmi perbincangan mengenai hal tersebut terus disosialisasikan termasuk pada Sosialisasi Destinasi Wisata di Tongkonan Rante, Buntu Burake yang dihadiri oleh tokoh masyarakat, Bupati Tana Toraja Bapak Theofilus Allorerung, anggota DPRD Tana Toraja dan masyarakat Buntu Burake. Pada Tahun 2012 Pemerintah daerah Tana Toraja sepakat bahwa lokasi yang paling bagus dan strategis adalah Kawasan Buntu Burake dengan membangun Patung Yesus Kristus Memberkati. Sebagai langkah awal saat itu, Pemerintah Daerah membuka akses jalan menuju puncak Buntu Burake. Tahun 2013 Bupati Tana Toraja Bapak Theofilus Allo Rerung Lewat Dinas Permukiman dan Tata Ruang mengadakan Sayembara dengan Tema Desain Pembangunan Patung Yesus Memberkati. Maka Pengumuman secara terbuka diumumkan Lewat Media Cetak dan Elektronik dilaksanakan untuk menyaring desain sesuai Tema yang dimaksud, sehingga pada Bulan Maret 2013 Lewat Panitia Sayembara yang terdiri dari gabungan beberapa Denominasi Gereja seperti Gereja Katolik, Gereja Toraja, Gereja Kibaid, dan beberapa Tokoh masyarakat serta Pelaku Seni. Panitia Sayembara yang dimaksud diantaranya : 1. Pastor Paroki Makale ( Pastor Nataniel Runtung, Pr ) 2. Bapak Daud Salli’padang. 3. Bapak Yohanis Lintin Paembongan,S.Th 4. Bapak Sarira Sebagai Pelaku Seni 5. Pdt. Yonan Tadius,S.Th, M.Th. Dari Hasil kesepakatan panitia Sayembara maka diambillah 3 (tiga) desain terbaik sesuai thema Sayembara dan diserahkan kepada Bupati Tana Toraja untuk selanjutnya ditetapkan sebagai Pemenang. Setelah memperhatikan semua kriteria dan kecocokan Thema yang di tawarkan maka pemenang sayembara dimenangkan oleh sdr. Yustinus L. Paembonan,ST dan sdr. Erya Sandy Madaun, ST. Setelah  hasil desain Sayembara ditetapkan maka pada Bulan Agustus 2013 tahap Pertama Pembangunan Landasan Patung  mulai dikerjakan, dan dilanjutkan pada tahun 2014. Pada tahun 2015 di lanjutkan pada pekerjaan pembangunan patung perunggu oleh pematung asal Jogjakarta yaitu Bapak Hardo Wardoyo Suwarto dan rekan-rekannya. Total tinggi 45 meter berupa bangunan bawah kandian dulang dengan tinggi 22 meter dan patung 23 meter.

Pada tahun 2016 – 2019 pembangunan dilanjutkan oleh Bupati Tana Toraja Bapak Nicodemus Biringkanae dan Wakil Bupati Tana Toraja Bapak Victor Datuan Batara; dengan pembangunan akses yang lebar, sarana dan prasarana pendukung, penataan kawasan pada pelataran, reling bangunan landasan dan patung, pelataran kaca adrenalin, jalan-jalan setapak, dan lain-lain. Selamat berwisata di Kawasan Wisata Buntu Burake, Tana Toraja

Subscribe US Now

RSS
Follow by Email
Facebook
Facebook
YouTube
YouTube
Instagram